EPISODE 1
Hai.. namaku Anaa Nurkhaliyya.
Kali ini aku ingin menceritakan sepenggal episode kisahku,
kisah yang jika diceritakan akan menghabiskan seluruh waktu hidupku. Kisah yang
begitu luar biasa hikmahnya dan tidak akan berakhir sampai waktunya tiba aku kembali
kepada-Nya.
Terpikir dalam benakku ku ingin jalani sendiri kehidupan
ini, ya tentu bukan tanpa alasan namun begitu banyak rasa khawatir di dalam
hati ini. Kekhawatiran yang mungkin sebagian orang mengalaminya, bukan karena
pengaruh luar namun karena diriku sendiri.
Aku adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang
sangat biasa dan sederhana. Aku terlahir ditengah kerumitan, dimana aku tak tau
jalan ceritanya dahulu seperti apa. Banyak versi cerita dari kisah mereka, aku
tidak tau. Namun aku yakin semua atas kuasa dan ketentuan-Nya.
Aku akan mulai mengisahkan kisahku ketika aku mulai
menginjak tanah Pasundan.
Sebelum memulai cerita ini, akan aku ingatkan ceritaku ini
sangat membosankan. Cerita yang lalu lalang dikehidupan dunia ini, namun tidak
semua orang tau makna arti kisahnya.
Kalian yang baru mengenalku tidak akan pernah percaya apa
yang aku lalui, karena sungguh bagaikan sinetron yang tiada episode akhir.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 Tahun entah 2 tahun usiaku kala itu, datang sebuah mobil
sedan berwarna silver dan berhenti tepat di depanku. Aku tidak tau tidak kenal
siapa beliau, beliau begitu gagah dengan seragam coklatnya keluar dari pintu
supir didampingi pintu sebelahnya seorang wanita muda nan cantik dengan seragam
serupa.
Seketika beliau mengendongku, lalu bertanya “ija
bulangndu?”, dalam Bahasa daerah suku karo yang berarti “dimana kakekmu?”. Lalu
ku arahkan ke kedai kopi didepan rumah kami, dan sekian sekilas ingatanku
diusia 2 tahun itu.
Saat itu Kakek dan Nenek adalah kedua orangtuaku, dan yang
kutau merekalah ibu bapakku, Namun, kebenaran itu terungkap ketika usiaku
menginjak 4 tahun. Aku tau bahwa mereka adalah ibu bapak dari ibuku. Aku hanya
menangis ketika ditinggalkan di Tanah Pasundan oleh Nenek, aku menjerit sejadi
jadinya ketika beliau hendak meninggalkanku menggunakan bus lintas Sumatera.
Aku tidak mengenal siapa beliau, aku hanya anak yang baru
menginjak di tanah Jawa tanpa perbekalan pengetahuan tentang mereka yang akan
mengurusku disini.
Trauma luar biasa yang ku alami diusia sedini itu, banyaknya
kegaduhan perpecahan dirumah yang mereka sebut tempat singgah. Bagiku hanyalah
sebuah tempat yang penuh ketakutan, dan tak ingin ku memiliki fase yang sama di
kehidupan saat ini.
Pegangan saat usia sedini itu adalah peran kakek yang
mengenalkanku akan Tuhan. Sejak kecil aku selalu dibawa ke Mesjid di kampung
Gurky yang telah luluh lantah oleh lahar Sinabung. Bersyukur anak sekicik itu
mengenal cara melalui hal hal tidak baik itu.
Beruntungnya aku selalu Allah lindungi ditengah hentakan
benda benda yang terlempar dan berserakan di rumah itu.
@Fitriana_White
NEXT EPISODE 2…..
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer




0 komentar:
Posting Komentar