Iseng-iseng mengusulkan acara
yukgowes outlive sambil nge-camp.
Namun dengan ide iseng itu, ternyata di acc oleh pihak outlive. Dag-dig-dug
ketika mengurus acara yukgowes ini, karena merupakan acara pertama yang
dilakukan Bike To Campus Bandung gowes sambil nge-camp dan saya yang masih tergolong baru bergabung dengan komunitas
ini.
Hal spesial yang saya rasakan
ketika memegang acara ini ialah ketika outlive memberikan bantuan dana untuk
kebutuhan ng-camp di Ranca Upas. Semakin bercampur aduklah pikiran dan perasaan
ini. Dan brand “Berghaus” menjadi
sponsor utama untuk pertama kalinya.
Tibalah hari puncak yang sudah
direncanakan Sabtu (16/8), panitia berangkat bersama dari pasteur menuju titik
kumpul di Lanud Sulaiman, jl. Kopo. Setiba pukul 06.45 WIB ternyata sudah ada
kurang lebih 10 peserta yang menunggu. “Alhamdulillah”, ujar dalam hati. Ketika
matahari semakin naik di langit luas peserta pun semakin menampakkan dirinya
satu persatu. Dan detik-detik keberangkatan berkumpul 30 peserta, dengan
rata-rata pengguna sepeda jenis FEDERAL.
Pukul 07.40 WIB waktu
keberangkatan, yukgowes “Berghaus Biking” dimulai. Acara ini banyak diikuti
oleh senior-senior Federal Bandung Indonesia, suatu komunitas sepeda jenis
Federal di kota Bandung. Usia tidak menghalangi mereka untuk tetap memboseh
sepeda dan gegembol yang dibawa dibelakang maupun didepan raknya. Bahkan saya
sebagai pemudi pun membawa 2 gegembol di rak belakang merasa keberatan, apalagi
para tetua yang membawa gegembol depan dan belakang. Melihat semangat peserta
membuat rasa lelah saya hilang.
Tikungan yang diiringi dengan
tanjakan dilalui oleh peserta dengan santai. Nikmat rasanya ketika melalui
tanjakan pertama, “tanjakan pertama saja bisa, pasti tanjakan kedua, ketiga dan
semua tanjakan dinikmati”. Ternyata bonus jalan menurun pun ada, setidaknya ada
waktu untuk mengistirahatkan kaki dengan menikmati turunan yang tak sebanding
dengan tanjakan.
Ketika boseh ditengah-tengah
tanjakan, “itu temennya kecelakaan!!!”, teriak supir truk. Hati berdedar-debar
khawatir, ingin menangis dan tidak sabar untuk boseh dan melihat siapa teman
itu. Dalam otak berfikir apakah orang itu Mamang saya di Bike To Campus, karena
dari jauh saya melihat sepeda yang mirip dengan milik Mamang.
“Alhamdulillah..”, lega rasanya ketika tau itu bukan Mamang dan salah satu
peserta yukgowes.
Menurut salah satu peserta
yukgowes yang menyaksikan jatuhnya orang yang dibilang supir truk tadi,
pesepeda tersebut memaksakan dirinya untuk boseh ke atas, tiba-tiba terjatuh
dan “step”. Setelah orang tersebut ditangani oleh masyarakat sekitar, kami
melanjutkan perjalanan. Sambil boseh, Wa Alan berpesan jangan memaksakan untuk
boseh jika sudah tidak sanggup, lebih baik istirahat sejenak, boseh sepeda
dengan santai. Pelan tapi pasti sampai dengan sehat dan selamat.
Kemudian beberapa menit setelah
melalui kejadian tersebut, peserta paling depan menunggu peserta lain sambil
istirahat di swalayan samping pom bensin terakhir ciwidey. Kurang lebih 30
menit istirahat sambil minum dan mengobrol, kami lanjutkan kembali perjalanan
boseh ini. Melihat jalan didepan yang terus menanjak semakin membuat semangat
untuk menaklukkan tanjakan ciwidey. Saya terus berfikir BISA, tanjakan Moko
saja BISA saya taklukkan kenapa tanjakan ciwidey tidak BISA ditaklukkan. Selalu
berfikir positif itulah kunci yang selalu saya tanamkan. Dan setiap ucapan kita
adalah do’a kita.
Setiba di alun-alun ciwidey, saya
beserta 3 orang panitia membelokkan arah menuju pasar ciwidey sedangkan peserta
dan panitia lain melanjutkan perjalanan menuju Bumi Perkemahan Ranca Upas. Kami
berempat membeli bahan pangan untuk dimasak nanti ditempat kemah. Menu utama
yang tidak jauh dari Pisang, Mie instan dan telorlah yang kami pilih. Ketika
membeli telor pedagang menanyakan asal kami dan tujuan kami, dan pedagang
tersebut mengacungkan jempolnya.
Setelah selesai belanja, kami
berempat melanjutkan perjalanan kembali. Dengan membawa pannier dan telor 1 kg
dirak belakang membuat saya harus berhati-hati mengayuh sepeda. Tanjakan dan
tikungan selanjutnya dilalui dengan lebih hati-hati agar telor yang dibawa
tidak pecah.
Terik matahari semakin memancar
tak mengalahkan semangat kami mengayuh sepeda meski barang semakin banyak yang
dibawa. Namun, semakin terik rasa haus semakin cepat menghampiri tenggorokan
kami. Beberapa menit sekali kami berhenti untuk sekedar membasahi tenggorokan
yang kehausan.
30 menit kami memboseh sepeda,
rombongan peserta yang didepan kami sedang istirahat untuk makan siang, lalu
kami berempat pun bergabung untuk istirahat dan makan. Usai istirahat, kami
melanjutkan perjalanan. Peserta dengan melesat memboseh, namun kami dengan
perlahan memboseh agar barang bawaan dan bahan makanan yang kami bawa terjaga
hingga Ranca Upas.
Ternyata ada peserta yang biasa
dipanggil Wa Toyo, dia boseh bersama kami paling belakang. Dengan semangatnya
beliau terus memboseh sepedanya meski pelan namun ia tidak pernah turun dan
mendorong sepedanya. Ketika ditawari oleh kami supaya dibantu dorong, “ga usah,
masih mau mencoba boseh sampai atas”, ujar Wa Toyo. Dalam hati berkata luar
biasa semangat para generasi tua dan patut dicontoh untuk para generasi muda.
Akhirnya, tibalah di Bumi
Perkemahan Ranca Upas pada pukul 15.30 WIB. Hampir 7 jam kami habiskan perjalanan
hingga tiba ditempat tujuan. Kemudian kami masuk ke dalam, ketika mau memasuki
jalan masuk ke acara Eiger seorang wartawan dengan kamera besarnya
memberhentikan dan mewawancarai saya.
Usai wawancara, saya parkirkan
sepeda dan mempersiapkan untuk mengocok door prize dari Berghaus. Dengan
harapan ingin menjadi salah satu pemenang door prize. Pemenang pertama
mendapatkan kupluk yang diraih oleh Kang Pey, pemenang kedua diraih oleh saya
sendiri mendapatkan dryfit, dan pemenang terakhir mendapatkan tas berghaus
diraih oleh Gilang. “Alhamdulillah.”
Setelah pembagian doorprize
beberapa peserta kembali ke Bandung, dan sebagian peserta nge-camp di Buper Ranca Upas. Peserta yang
nge-camp mendirikan tendanya
masing-masing dan membereskan barang bawaan masing-masing.
Menjelang maghrib, kami panitia
memasak bahan makanan yang dibeli dipasar tadi. Memasak nasi menjadi menu
pertama, dan dilanjutkan memasak telur yang tetap terjaga tanpa asa satupun
yang pecah. Dan malam hari tersebut telur yang saya bawa ludes dengan cepat. Alhamdulillah, ga sia-sia perjuangan membawanya
tetap terjaga. Malam kian larut, peserta para tetua membuat api unggun dan
sekedar untuk memanaskan tubuhnya yang kedinginan. Beberapa peserta tidur dalam
tenda, dan beberapa peserta tidur diluar tenda dekat api unggun yang dibuat
semalaman.
Adzan Shubuh pun berkumandang,
menandakan waktu melaksanakan ibadah dan beraktivitas kembali. Dengan keadaan
suhu yang dingin, memaksa tubuh untuk tetap terlelap dalam tenda namun pikiran
memaksa harus bangun dan melaksanakan kewajiban. Setelah melaksanakan sholat
Shubuh, peserta yang masih terlelap kami bangunkan.
Kami masak air panas untuk
sarapan dan mengeluarkan bahan makanan untuk sarapan. Setelah sarapan, kami
mengambil beberapa foto ketika sunrise. Foto cahaya matahari yang menembus
pepohonan dan masuk dalam danau didepan tempat kemah kami. Maha Suci Allah,
indah sekali pemandangan yang Ia tunjukkan.
Hari ini adalah hari dimana
belenggu penjajahan dihapuskan. Merdeka! Indonesia telah merdeka selama 69
tahun. Meski kami nge-camp, tepat
pukul 10.30 WIB kami mengikuti upacara 17 Agustus yang diselenggarakan oleh
Eiger di lapangan utama. Dengan hikmat upacara tersebut, membuat hati bergetar
dan bulu kuduk merinding membayangkan perjuangan pahlawan yang berjuang memerdekakan
negara ini.
Usai upacara, kami membereskan
semua barang-barang dan bergegas untuk kembali ke Bandung.
Begitu banyak pelajaran yang saya
dapatkan ketika perjalanan gowes tersebut. Ego benar-benar diuji, kesabaran
untuk terus memboseh, pemikiran positif dan negatif selalu beradu, timbul
kebersamaan untuk saling menunggu dan membantu, mengenal karakter sesama teman,
mendapatkan arti sebuah keluarga.
Juga pelajaran ketika upacara
ialah terus kibarkan semangat sebagai pemuda untuk memajukan Indonesia. Layaknya
pahlawan zaman dahulu berjuang untuk memerdekakan dari penjajah. Sekarang kita
harus memerdekakan masyarakat dari jahilan tangan para petinggi negara. Semoga
dengan semangat juang dan niat yang baik dari para generasi muda saat ini dapat
membenahi negara kita saat ini. Indonesia! Merdeka! Merdeka! Merdeka!
This arcticel join in Polygon Blog Competition #1
link back to website http://store-id.polygonbikes.com/
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer




