Kisahku baru saja dimulai…
Semua kawanku di hari ini tidak akan pernah tau kebenaran
kisah masa kecilku, yang dekat denganku hanya tau cerita kulitnya saja. Karena
mereka saksi hidupku ketika meneteskan air mata yang begitu deras, jeritan
jeritan di tempat singgah itu. Mereka tau banyak kisah kelamku, ya tetanggaku
saat itu.
Mereka sangat baik dan kasihan padaku, jauh lebih baik dari
orang yang kusebut Ibu kala itu.
Sungguh aku tak mengenal ibuku itu, bagiku dia hanyalah
orang asing yang membawaku datang ke Tanah Pasundan. Beliau hanyalah orang yang
akan mengurusku, yang memberiku makan, yang mengurus segala kebutuhanku.
Begitulah beliau bagiku kala itu.
Kisah cinta ibuku luar biasa Allah uji secara batin dan fisik.
Hari itu aku sangat ingat betul kejadian pertama yang aku lihat di depan mataku
dan rasakan sendiri.
Usiaku kala itu 4,5 tahun sebaya dengan anakku saat ini. Aku
melihat bagaimana kegaduhan antara orang yang aku sebut ibu dan bapak, semua
barang hancur termasuk televisi yang selalu menemaniku ketika mereka pergi
begitu saja entah kemana setiap kali ada kegaduhan.
Hari itu, hujan sangat lebat. Setelah kegaduhan luar biasa itu
mereka pergi entah kemana. Aku anak sekecil itu ditinggal sendirian dirumah
yang berantakan itu, aku hanya menangis tak henti di kamar sejak mendengar
mereka beradu otak dan fisik. Kamu bisa bayangkan anak sekecil itu, sudah bisa
berfikir hal hal dewasa seperti itu. Saat ini di otakku, aku kasihan sama anak
itu, aku ingin memeluk dia erat, aku ingin membawa dia kabur dan menghilang
bagai ditelan bumi.
Hari hariku lalui begitu saja, tanpa terjadi apa apa. Aku anak
kecil itu sudah bisa berpura pura. Namun, semua hal itu dia pendam di alam
bawah sadarnya.
Kekacauan hari itu hanya aku, dan mereka yang tau, tetangga rumahku
tidak tahu karena saat itu hujan begitu deras sampai suara teriakanku saja
kalah dengan suara air hujan yang berserakan di Tanah Pasundan kala itu.
Aku begitu khawatir ibuku akan kehilangan nyawa didepanku. Karena
aku baru saja mengenal mereka. Aku takut kehilangan keluarga baruku, sehingga aku
hanya bisa memendam hari itu tanpa seorangpun tau sebelum aku menceritakan ini
pada kalian pembaca ceritaku yang sangat alot.
Aku sangat menyayangi mereka berdua, bahkan Alm. Bapak pun
sangat sayang padaku. Aku bisa merasakan sayangnya beliau, setiap pelukannya
setiap tetes keringatnya. Terkadang ketika aku dimarahi ibuku, aku akan cepat
cari beliau aku akan berlindung di badan besar dan tegapnya.
Pak, aku sayang kamu. Alfatihah untukmu, selalu diterangi
cahaya Tuhan. Maafkan semua kesalahan aku yang tak bisa mempertahankanmu dengan
Ibuku. Kami sangat sayang padamu kala itu, tapi kuasa Tuhan semuanya Pak. Tapi sungguh
aku selalu ingat saat Bapak mendengar semua keluh kesahku. Hanya bapak yang
bisa mendengar dan memahamiku. Aku ga pernah benci Pak, tapi aku sangat sakit
melihat semua karakter kalian yang selalu adu ego tanpa melibatkan Tuhan.
Kalian pernahkah berfikir aku ini masih 4,5 tahun Pak. Aku ini masih sangat butuh
keterlibatan kalian saat itu, saat masa masa emasku tau siapa aku siapa kalian
siapa mereka. Tapi aku tidak mendapatkan hal itu dirumah kita Pak, aku hanya
menyayangimu dan hanya bisa mendo’akanmu.




