Takdir Allah Tak Pernah Menipu


Ketika waktu tiba. Sepasang kalung cinta jatuh terpelanting dan terpisahkan. Disebuah bandara Soekarno-Hatta nan ramai didesaki ribuan manusia. Kebetulan hari itu puncaknya keberangkatan baik dalam negeri atau luar negeri.

Diantara gerombolan orang-orang, ada seorang pemuda dan seorang pemudi sedang berbincang. Ternyata perbincangan mereka ialah perbincangan terakhir yang akan mereka lalui. Inilah akhir dari pertemuan mereka yang berpuluhan tahun tak terpisahkan. Pemuda itu bernama Muttaqin Muhsinin dan pemudi itu bernama Nurafni Aisyah.

Pemuda itu berpamitan untuk meninggalkan Indonesia menuju Jepang bersama keluarganya. Keluarganya meminta Muhsin untuk melanjutkan ‘study’-nya di Jepang. Nur tak bisa mencegah cita-cita yang ingin digapai oleh Muhsin, ia hanya mengikhlaskan kepergian Muhsin ke Jepang. jepang adalah jalan hidup yang dipilih oleh Muhsin juga keluarganya, tapi sebenarnya ia masih bimbang akan pilihannya. Namun, keluarganya memastikan Muhsin untuk pergi ke Jepang. Entah mengapa Muhsin merasa keluarganya sedikit berbeda. Hati kecil Muhsin mengatakan bahwa keluarganya memiliki niat untuk memusahkannya dengan kekasihnya. Namun ia berpikir positif, ia yakin dengan pilihannya.
 
Dengan ucapan Basmallah ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Indonesia entah sampai kapan. Dan pesawat yang ia tumpangi bersama keluarganya siap terbang.

Nur hanya melambaikan tangannya ketika pesawat itu melintas di langit.

Sejenak hatinya penuh pilu ketika ditinggal pergi sang kekasih, namun ia mencoba untuk menahan rasa sakitnya dengan berserah diri pada Allah swt. Pelipis wajahnya dibasahi oleh linangan air mata, mencoba untuk menahan kesepian tapi ia tak sanggup. Ia berdoa pada Allah supaya ia dapat merasa dalam ketenangan meski tanpa seseorang yang menemaninya.



7 tahun kemudian…

Disebuah ‘cafe’ yang ramai dikunjungi, disalah satu meja ‘cafe’ tersebut Nur duduk bersama teman satu kuliahnya. Ia melihat ke jendela, terbesit dalam benaknya tentang Muhsin. Ia merasa rindu pada Muhsin. Namun ketika ia melihat majalah yang dibaca temannya. Ia melihat sepasang foto kekasih yang bergandengan, rasanya ia mengenal sosok pemuda tampan yang ada difoto itu. Dalam hitungan detik ia sadar, bahwa pemuda itu ialah kekasihnya yang telah pergi meninggalkan 7 tahun silam. Air matanya berlinang, dan ia lekas berlari meninggalkan temannya tanpa sepatah katapun.

Tidak jauh dari ‘cafe’ yang ia tinggalkan tadi, ia melihat sepasang kekasih yang keluar dari mobil yang begitu mewah. Ia tak menyangka bahwa mereka ialah sepasang kekasih yang ia lihat dimajalah tadi. Hatinya tak karuan, ada rasa senang karena ia bisa melihat kekasihnya yang dulu, ada rasa sedih karena kekasihnya telah memilih pendamping selain dirinya. Ia hanya menangis ketika menuju rumah. Ia memanjatkan doa pada Allah “Ya Allah, berilah apa yang aku butuhkan saat ini.” Tak lama setelah ia berdoa, hatinya kembali tenang, damai, dan tentram seperti sediakala.

Beberapa hari setelah pertemuan itu…
Muhsin mengirim pesan singkat pada Nur. Pesan itu berisi bahwa sebenarnya wanita yang bergandengan dengannya adalah wanita yang dijodohkan oleh orangtuanya dan Muhsin mengatakan bahwa ia masih sangat mencintai Nur. Kemudian Nur membalas pesannya Muhsin bahwa ia percaya apa yang diceritakan Muhsin padanya .

Malam hari disebuah restoran diiringi dengan suasana yang romantis. Ketika itu sepasang pemuda-pemudi yaitu Muhsi dan Naddyn Auliani yang sedang bersantap makan malam. Tak berapa lama sebuah pesan singkat diterima oleh sang pemuda yaitu Muhsin. Pesan yang ia terima dari Nur yang berisikan bahwa Nur sangat mencintai Muhsin. Membaca pesan yang ia terima, Muhsin senyum terlihat bahagia. Namun pasangan yang bersamanya merasa tak nyaman ketika Muhsin menerima pesan itu. Setelah menerima pesan itu, Muhsin berpamitan pulang pada Naddyn.

Dan tak berapa lama setelah Muhsin pergi meninggalkan restoran itu, ia tersadar bahwa ponselnya tertinggal. Tanpa Muhsin sadari Naddyn telah membalas pesan yang ia terima dari Nur dengan kata-kata yang tak senonoh. Akhirnya Muhsin kembali ke meja restoran tadi yang masih ditempati oleh Naddyn dan ia lekas mengambil ponselnya lau pergi meninggalkan Naddyn.

Keesokan harinya. Ketika gerimis menghampiri, sebuah rumah yang cukup mewah terlihat sepi tiada penghuni. Rumah yang telah berpuluh-puluh tahun ditempati oleh Nur, namun pada hari itu Nur akan pergi meninggalkan tempat kelahirannya menuju Jepang. Hatinya amat terasa bimbang ketika hendak meninggalkan Indonesia, namun apalah daya bila hal itu adalah yang terbaik atas istikharahnya.

Di tempat lain, Muhsin merasa bingung. Dalam pikirannya bertanya, “ Mengapa Nur tak membalas pesannya?” Lekas ia membuka pesan terkirim diponselnya. “Mungkin karena pesan ini Nur menghindariku.” Muhsin segera berlari menuju rumah Nur, tanpa ia hiraukan air gerimis yang menyirami tubuhnya. Sesampainya ia di rumah Nur, tak ada seorangpun di rumah itu. Ia melihat kedalam rumah Nur lewat celah di jendela, yang Muhsin lihat ada sebuah foto pohon sakura yang ada di Jepang. Foto yang pernah ia berikan pada Nur 7 tahun yang lalu.

Terbesit dalam benaknya bahwa Nur akan pergi menuju Jepang, akhirnya Muhsin lekas pergi menuju bandara dengan mengendalikan mobilnya begitu kencang dan berhati-hati.

Sesampainya di bandara ia berlari mencari Nur, ketika ia menaiki tangga ia melihat nur yang sedang berjalan menuju pemeriksaan barang. Muhsin berlari sekencang-kencangnya, kecepatan lari yang belum pernah ia lakukan. Namun, ia kehilangan sosok Nur.

Seseorang menubruk Nur sehingga kalung setengah hati yang dipakainya jatuh. Tak jauh darinya Muhsin mendengar suara kalung yang jatuh, ia segera mencari suara itu. Pandangannya menuju satu titik yaitu, tempat jatuhnya kalung. Ia segera mengambil kalung itu dan didepan jatuhnya kalung itu sosok Nur yang berdiri dan menangis ketika melihat Muhsin mengambil kalung itu. Nur hanya bisa menangis dan tak bicara sepatah katapun. Muhsin memberikan setengah kalung hati Nur yang jatuh, dan ia mengeluarkan dari sakunya kalung berupa pasangan kalung Nur yang menandakan bahwa Muhsin memang masih sangat mencintai Nur. Muhsin mengatakan bahwa jika takdir kita untuk bersama,Allah akan menyatukan kita. “Takdir Allah tak Pernah Menipu.”


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer